11 Feb 2014

Romantisme Warga Kedung Ombo dan Rm. Mangun

Warga Kedung Ombo berdoa di makam Rm. YB Mangunwijaya, Pr

Kemeriahan Haul 15 tahun meninggalnya Rm. Mangun juga tidak lepas dari kehadiran beberapa warga dari Kedung Ombo, tempat Rm. Mangun pernah berjuanguntuk mendapatkan hak warga di Kedung Ombo tahun 1989. Warga Kedung Ombo, yang datang sekitar 19 orang, tiba di Seminari Tinggi pukul 17.00 WIB. Setibanya di Seminari Tinggi, mereka bergegas untuk nyekar dan berdoa di pusara Rm. Mangun.

Bapak Wagimin, salah satu wakil dari Desa Klewor, bercerita banyak tentang kiprah Rm. Mangun saat di Kedung Ombo. Beliau bertutur, bagaimana warga di Kedung Ombo sangat terkesan akan usaha Rm. Mangun untuk membela hak rakyat atas tanah dan air di Kedung Ombo. Beliau juga bercerita tentang Rm. Mangun yang selalu memberikan perhatian kepada warga yang miskin dan anak-anak sekolah. “Rm. Mangun tidak pernah absen untuk memberikan sumbangan berupa makanan, pakaian, dan alat-alat sekolah untuk anak-anak,” kenang Bapak Wagimin. Kendati, apa yang dilakukan Rm. Mangun saat itu adalah tindakan gerilya, menghindari pemerintah, lanjut Pak Wagimin.

Sampai saat ini, warga Kedung Ombo masih mengenang karya Rm. Mangun. “Romo Mangun berbeda dari pemimpin yang lain. Kami diajari untuk sabar dan mau menerima setiap masalah dengan berani,” ungkap Pak Supri, salah satu warga dari Kedung Ombo. Jasa Rm. Mangun pun masih terasa sampai sekarang, di mana permasalahan tanah di Kedung Ombo sudah tidak begitu menjadi soal. “Berkat Rm. Mangun, kami menjadi berani untuk memperjuangkan hak kami. Bahkan, sekarang warga Kedung Ombo sudah bekerja sama dengan LBH Semarang. Kalau-kalau masalah ini terusik lagi, kami sudah punya kekuatan,” ungkap Pak Wagimin. (@petrikyoga)

0 komentar:

Posting Komentar